Pertunjukan Musik Biola Yosep Marto di Acara Pelantikan PDPM Matim: Percikan Sejarah Jalan Dakwah K.H Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah

Daerah
Dilihat 611

Elar-Matim, Kompasnews.co.id- Ada hal yang menarik di arena pelantikan Pengurus Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Manggarai Timur periode 2023-2027 di Elar pada hari sabtu 13 Juli 2024.

Selain diisi dengan Pidato Kebangsaan Oleh Bapak Agas Andreas dengan tema toleransi dalam kehidupan bermasyarakat, arena pelantikan pengurus PDPM Matim juga dimeriahkan dengan pagelaran musik oleh Bapak Yoseph Marto, Eks Kepala Dinas PU Manggarai Timur, yang kini ikut dalam kontestasi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Manggarai Timur pada pilkada serentak 2024 melalui jalur non partai atau jalur perseorangan/independen dengan nama paket Merdu.

Dalam kesempatan yang penuh kegembiraan, Yosep Marto memberikan sajian kesenian yang luarbiasa, menggugah hati seluruh tamu undangan. Tak terkecuali, Bapak Agas Andreas pun terbawa suasana ikut menyanyikan lagu bombang bersamanya.

Biola dan Gambus yang dimainkan dengan penuh piawai tak saja menghibur suasanan pelantikan akan tetapi juga membawa pesan yang signifikan bagi masyarakat budaya Manggarai Timur. Wabilkusus, warga persyarikatan Muhammadiyah.

Biola dan Gambus merupakan alat musik yang erat kaitannya dengan metode dakwah penyebaran agama islam di Nusantara, dan juga di wilayah utara pulau Flores.

Dalam pengantarnya saat membawakan lagu bombang dengan diiringi gesekan melodi biola, Yosep Marto mengatakan lagu bombang merupakan lagu yang sudah ada di tanah Manggarai sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia merdeka, mengisahkan masa-masa penjajahan Belanda atas Indonesia.

“Lagu bombang yang artinya gelombang atau gejolak merupakan lagu pembangkit semangat anti kolonialisme Belanda waktu itu, ” tutur Yosep Marto kepada seluruh tamu undangan.

Pertunjukkan biola yang memukau oleh Yosep Marto pada acara pelantikan pengurus PDPM Manggarai Timur periode 2023-2027 seakan mengajak ingatan warga persyarikatan Muhammadiyah untuk kembali ke lorong sejarah tentang pendekatan dakwah K.H Ahmad Dahlan, sosok pendiri Muhammadiyah dalam mendakwahkan ajaran islam.

Dalam satu kisah, K.H Ahmad Dahlan menjadikan Biola sebagai perumpaan dalam pengalaman ajaran agama islam. Dikisahkan, saat K.H Ahmad Dahlan sedang mengajar ajaran islam kepada para muridnya. Terlebih dahulu, Sang Kiai memainkan biola di hadapan para muridnya.

Semua muridnya begitu khusuk menikmati melodi musik biola yang dimainkan oleh Sang Kiai. Setelah usai, Sang Kiai meminta salah muridnya untuk memainkan biola. Namun, karena Sang murid tidak tahu dan mengerti cara memainkan biola akhirnya nada yang dihasilkan pun sumbang dan enak didengar oleh murid yang lain.

Hingga pada akhirnya, K.H Ahmad Dahlan memberikan pelajaran kepada murid-muridnya bahwa begitulah pemahaman dan pengamalan ajaran islam. Kalau pemahaman ajaran islam kita keliru maka pengamalannya pun akan keliru.

Melodi biola yang sumbang merupakan perumpamaan ajaran islam yang tidak lagi mendamaikan, penuh teror dan kebencian.

Kehadiran Yosep Marto dengan kepiawaian memainkan musik biola seakan menjadi percikan sejarah bagi warga persyarikatan Muhammadiyah Manggarai Timur agar dalam gerakan dakwahnya konsisten menebarkan ajaran islam yang penuh harmoni, toleransi dan perdamaian.

Toleransi yang menjadi wacana utama dalam acara pelantikan tersebut dikemas secara apik oleh panita pelaksana dengan menghadirkan gagasan akademis melalui pidato kebangsaan oleh Bapak Agas Andreas, selanjutnya pesan toleransi tersebut diperkaya melalui seni musik biola dan gambus Bapak Yosep Marto dan terakhir pesan toleransi dalam konteks kemuhammadiyaan dipertegas oleh Kakanda Fathur Dopong, perwakilan Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah (PWPM) NTT bahwa Muhammadiyah sudah selesai dengan bicara toleransi. Muhammadiyah sudah menerjemahkan toleransi melalui gerakan nyata melalui pelayanan dan dedikasi amal usaha Muhammadiyah untuk semua golongan, ras, suku dan agama yang ada di Indonesia.

“Muhammadiyah sudah selesai dengan bicara teori-teori toleransi. Muhammadiyah sudah membuktikan toleransi itu melalui pendirian Kampus dan Rumah Sakit yang diakses oleh semua agama, suku, rasa dan golongan manapun.” tegas Fathur Dopong dalam sambutannya.

You might also like