BENGKULU SELATAN
Kompasnews.co.id .
Diduga hasil panen tandan buah segar (TBS) sawit milik sekolah menengah kejuruan Negeri 2 Bengkulu Selatan (SMKN/2/BS) provinsi Bengkulu tidak jelas kemana dana hasil penjualan tersebut. Diduga banyak di selewengkan oknum kepala Sekolah.
Saat dikonfirmasi kepala sekolah Edy Rusman Jaya, S.Pd, M.Pd selalu menghindar dari kejaran awak media. Konfirmasi lanjutan dengan Waka kesiswaan dan Waka kurikulum tidak satu pun yang bersedia memberikan keterangan terkait kontribusi dari hasil panen tandan buah segar sawit yang menjadi aset sekolah. Pengawas panen buah sawit Riko saat diminta keterangan ketika sedang melakukan pengawasan di lahan perkebunan menjelaskan jumlah luas lahan kebun sawit milik SMKN 2. Ada pun luas lahan kebun sawit milik sekolah total mencapai kurang lebih 65 hektare .
“Luas lahan perkebunan milik sekolah lebih kurang 65 hektar, Sekolah hanya mengelola sebanyak 500 barang sawit,” kata Riko.
Panen dilakukan setiap dua Minggu sekali dan satu bulan dua kali panen. Sedangkan hasil panen per satu bulan sekolah mendapatkan lebih kurang 3 ton sampai dengan 4 ton sedangkan hasil panen dijual kepada penampung di sekitar lingkungan sekolah.
“Panen kami lakukan setiap dua Minggu sekali dan sebulan sebanyak dua kali panen,” lanjut Riko (21/08/25) di lokasi panen sekolah SMKN 2 Bengkulu Selatan.
Dari tahun 2024 sampai 2025 kontribusi hasil panen sawit belum jelas kemana realisasi dana tersebut .kuat dugaan dana hasil panen masuk ke kantong pribadi oknum kepala sekolah SMKN 2 tersebut. Hal ini terlihat keraguan para guru saat dimintai kelarifikadi yang saling lempar dan menutupi serta mengarahkan supaya lansung mengkonfirmasi kepada kepala sekolah secara. Ini jelas sudah membuat suatu kecurigaan atas sikap yang di perlihatkan mereka dengan menghindarnya kepala sekolah dan beberapa guru yang membidangi untuk di mintai dikonfirmasi dan kelarifikasinya.
Aktivis penggiat anti korupsi Anton Putra Jaya kecewa dan merasa perihatin atas sikap kepala sekolah serta beberapa guru SMKN 2 yang menghindari media untuk memberikan hak jawabnya. Bahkan kepala sekolah sampai memblokir kontak media.
“Saat kami temui kepala sekolah yang sedang melaksanakan entry metting di SMKN 1 bersama dinas inspektorat propinsi Bengkulu kepala sekolah tetap saja menghindar. Melalui bendahara kepala sekolah SMKN 2 yang juga ikut entry metting menyampaikan pesan bahwa kepala sekolah sudah pulang duluan. Namun hal tak terduga setelah kami bertemu dengan irban 2 dari inspektorat propinsi pada sebuah ruangan diluar dugaan sang kepala sekolah muncul dan berlalu dihadapkan kami,” Jelas Anton.
Seorang kepala sekolah yang menghindari, berbohong dan bersembunyi saat dimintai konfirmasi dan kelarifikasinya patut menjadi perhatian serius pihak-pihak terkait agar tidak mencoreng dunia pendidikan di propinsi Bengkulu khusunya dan Indonesia umumnya. Dimana sekolah adalah tempat mendidik, mencetak dan membimbing generasi penerus bangsa agar mencapai tujuan bersama Indonesia sejahtera dan makmur.
(Tanto JKD)













