Edo Mandela: Dari Kepedihan yang Menyengsarakan, Menuju Kepedihan yang Membuat Pilihan

Daerah
Dilihat 395

Pariaman – Kompasnews.co.id.
Hidup adalah perjalanan yang tidak pernah mudah. Edo Mandela merasakannya sejak remaja. Ia pernah terjerat kepedihan yang menyengsarakan—membuat dada sesak, hati hancur, dan jiwa hampir menyerah. Namun justru dari kepedihan itu, ia menemukan jalan: ada kepedihan yang memaksa manusia untuk memilih. Tenggelam dalam kegelapan, atau bangkit mengejar perubahan. Edo memilih yang kedua.

Hari ini, pilihan itu berbuah manis. Tepat pada 9 September 2025, Edo resmi disumpah sebagai pengacara oleh Ketua Pengadilan Tinggi Sumatera Barat. Toga yang ia kenakan bukan hanya pakaian profesi, tetapi simbol perjalanan panjang penuh luka, air mata, dan kebangkitan.

Jejak Kehidupan Penuh Perjuangan

Sejak usia 15 tahun, Edo sudah menjadi yatim. Hidupnya berpindah-pindah dari Pasaman Barat, Padang, Payakumbuh, hingga menetap di Batang Anai, Pariaman. Berbagai pekerjaan pernah ia lakoni: menjadi kuli, berjualan bandrek di jalanan, bertani, hingga bekerja sebagai tenaga honor di kejaksaan, inspektorat, kantor wali nagari, bahkan leasing.

“Semua itu penuh keringat, penuh tangis, dan penuh pelajaran. Dari situlah saya belajar arti sabar, arti doa, dan arti syukur,” kenangnya.

Namun, jalan Edo tidak selalu lurus. Ia pernah terseret ke dunia kelam: ganja dan sabu menjadi teman dalam masa sulit. Ia sering dihina, dicemooh, bahkan dianggap tidak ada. Dunia seolah menutup pintu baginya.

Tetapi ada satu pintu yang tak pernah tertutup—pintu doa seorang ibu.
“Ibu saya adalah cahaya dalam gelap. Beliau selalu ada, tidak pernah meninggalkan saya, selalu mendoakan meski saya jatuh berkali-kali. Kalau bukan karena doa ibu, saya tidak akan sampai di titik ini,” ucap Edo dengan suara bergetar.

Cahaya dari Keluarga Kecil

Selain ibu, ada sosok lain yang menjadi penguat: istrinya. Dalam suka maupun duka, sang istri hadir dengan kesabaran luar biasa.
“Istri saya adalah penguat ketika saya rapuh. Kesabarannya mendampingi saya dalam keadaan sulit adalah anugerah terbesar dalam hidup saya. Tanpa dia, saya mungkin tidak mampu berdiri setegak hari ini,” ujarnya.

Di sela-sela perjalanan hidup, Edo merenungkan satu hal: kepedihan ada dua. Pertama, kepedihan yang menyengsarakan—yang membuat manusia kehilangan arah. Kedua, kepedihan yang justru membuka pilihan—yang mendorong manusia untuk berubah. Dan Edo memilih untuk berubah.

“Allah SWT menunjukkan jalan, bahwa manusia diberi kesempatan berkali-kali untuk bangkit. Semua ini bukan karena saya hebat, tapi karena kasih sayang-Nya,” tegas Edo.

Dari Ojek Online ke Toga Advokat

Dalam masa magang, Edo masih menyambung hidup dengan menjadi tukang ojek online (Maxim). Harapannya sederhana: bisa bertahan dengan keluarga kecilnya. Dari kursi motor hingga kursi pengacara, ia meyakini bahwa setiap ujian adalah tangga untuk naik kelas.

“Hidup di dunia hanyalah persinggahan. Kampung akhir kita adalah akhirat. Jadi bagaimana pun kerasnya hidup, jangan pernah lepaskan doa, jangan pernah lepaskan niat baik,” katanya.

Babak Baru: Advokat untuk Keadilan

Kini, Edo Mandela memasuki babak baru. Sebagai advokat yang baru disumpah, ia ingin menjadikan profesinya bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga ladang pengabdian.
“Saya ingin hukum benar-benar jadi tempat mencari keadilan, bukan sekadar tulisan di atas kertas. Perjalanan saya yang penuh luka ini mengingatkan, setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua. Dan saya ingin hadir membela keadilan itu,” ujarnya.

Kisah Edo Mandela adalah bukti bahwa hidup tidak pernah terlambat untuk berubah. Doa seorang ibu, kesabaran seorang istri, dan keyakinan pada kuasa Allah SWT mampu menuntun manusia dari gelap menuju cahaya. Dari kepedihan yang menyengsarakan, menjadi kepedihan yang membuka pilihan, hingga akhirnya menemukan jalan menuju kemenangan.

Redaksi

You might also like