Jateng – Tim penilai desa wisata dari Kabupaten Pati Jawa Tengah, berkunjung ke Desa Tajungsari Kecamatan Tlogowungu, Rabu (5/6).
Dalam kunjungan tersebut, tim penilai melihat kelayakan desa Tajungsari sebagai desa wisata.
Mereka mendatangi dan melihat pentas kesenian desa serta melihat potensi wisata alam dan wisata religi. Selain menawarkan wisata yang memanjakan mata dengan harga menu makanan yang terjangkau, desa ini juga memiliki potensi Sumber Daya Alam yang berlimpah dengan kualitas unggul.
Kepala Desa Tajungsari zeky Hasanamali mengatakan, pihaknya optimis Desa Tajungsari layak jadi desa wisata.

Hal itu lantaran menurutnya, di Tajungsari ini, ada beberapa destinasi wisata yang menonjol salah satunya ada religi punden kenduruan dan ada taman serta bunga dengan udara yang sejuk dan panorama alam pegunungan yang indah.
Selain itu, ada cafe dibawah untuk anak muda maupun bagi wisatawan yang berkunjung bisa ngopi atau makanan yang ada di cafe tersebut serta bisa melihat keindahan alam disekitar.
Dan nanti ada refting susur sungai, sudah saya siapkan paketnya, terutama ada air terjun kenduruan tretes dan ini baru saya benahi dan insya Allah bulan depan sudah clear semua, sehingga bisa kita buka, kata Kades Tajungsari.
Disamping itu, ada tiga lokasi yang harganya lumayan terjangkau dan nanti kita buka bulan juli dan mohon doa restunya semoga masyarakat Desa Tajungsari ini bisa menikmati destinasi desa wisata, pungkasnya.
Sementara, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pati Rekso Suhartono mengatakan, pada hari ini Dinporapar melakukan penilaian desa wisata di Desa Tajungsari. Dari 24 calon desa wisata yang siap baru 6 desa. Dimulai dari Desa Kauman, Desa Sukolilo, margoyoso, Gunungsari, Tlogowungu, dan Tajungsari.
Yang tentunya bertujuan untuk menggali potensi-potensi yang ada di desanya masing-masing, dan potensi-potensi itu bisa kita gunakan untuk mendapatkan aset desa, serta UMKM desa tersebut juga bisa bergerak guna menambah perekomian warga sekitar ungkapnya.
“Untuk menjadi desa wisata butuh proses. Selain itu ada kriteria tertentu yang mesti dipenuhi. Karena itulah kami melakukan pengecekan di lapangan. Apakah sudah layak atau belum, sudah sesuai atau belum,” katanya.
Anggota tim penilai yang turun tidak hanya dari Dinporapar, melainkan juga melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Pati, Dispermades, akademisi dan praktisi.
Penilaian itu ada beberapa kualifikasi, ada desa rintisan, desa berkembang atau desa maju. Nantinya, lanjut Rekso, dari penilaian itu kita ajukan untuk mendapatkan SK Bupati, akan dilakukan pengembangan-pengembangan lebih lanjut. Tujuannya supaya desa wisata yang ditetapkan bisa berkembang dan benar-benar layak jual.
Dari 6 desa tersebut kita tetapkan, kemudian kalau ada lomba desa tingkat propinsi kita ajukan untuk maju tingkat nasional, pungkasnya.
( is ).













