BENGKULU SELATAN Kompasnews.co.id
Dugaan kasus malpraktik di Rumah Sakit Asyifa Manna Kabupaten Bengkulu Selatan kembali terjadi. Kini dialami Seorang pasien bernama Yunita Iliniarti, yang mengaku menjadi korban, dan bersiap melaporkan pengalamannya kepada Aparat Penegak Hukum.
Korban menjelaskan kepada awak media Kompasnews.co.id kronologi sampai pada kesimpulan diduga adanya malpraktik di Rumah Sakit Asifa Manna terjadi pada bulan Mei 2025 lalu. Korban menjelaskan, setibanya di rumah sakit, kliennya yang saat itu menjadi pasien langsung menjelaskan keluhan penyakit yang dialaminya.
“Saya mengeluh demam, sakit perut bagian bawah terutama sebelah kanan bawah dan terus mengkonsumsi anti sakit semenjak dua Minggu terkahir sebelum tanggal (01/05/25) dan pada akhirnya saya memeriksakan diri di IGD RS. Asyifa Manna berdasarkan hasil pemeriksaan Radiologi di diagnosa Aappendiks yang tak tervisualisasi ada dugaan Appendiscitis belum dapat disingkirkan, tak tampak ada kelainan pada uterus, dan perlu segera di oprasi peritonitis wakalpun hasil USG masih dugaan tas dasar leukosit tinggi 44 ribu dan pemeriksaan pisik sakit perut bagian bawah tanpa melakukan pemeriksaan lain seperti rontgen, ctscan atau MRI, apalagi untuk pasien wanita tidak bisa mendiagnosa hanya dengan nyeri tekan perut bagian bawah dan leukosit tinggi harus ada change lain untuk mentukan tindakan yang harus diambil seorang dokter” Kata Yunita
“Korban melanjutkan penjelasnya bahwa
Berdasarkan diagnosa
adanya dugaan usus buntu dan rahim yang normal, dan dokter lansung mengambil tindakan oprasi apendektomi secara Cito tehadap saya. Alasan dilakukannya operasi laparatomy dengan diagnosa peritonitis perut defans padahal ada bukti bahwa kondisi pasien dan hasil usg tak tervisualisasi adanya usus buntu berbanding terbalik dengan diagonosa tersebut yang seharusnya apabila perut defans pasti nampak di usg adanya nanah akibat dari usus buntu yang sudah pecah, kita tau sendiri bahwa untuk operasi cito itu operasi yang dilakukan dalam keadaan darurat dan claim bpjs nya berkali lipat dari pada operasi biasa. setelah oprasi dilakukan saya masih terus menerus mengalami nyeri perut dibagian bawah dan jauh lebih sakit sebelum di oprasi . Dan pada tanggal (04/05/25) saya di suruh pulang tanpa visit terlebih dahulu walupun saya masih belum begitu sehat, yang paling menyakitkan walaupun saya masih menahan rasa sakit yang luar biasa dengan arogannya dokter berkata itu sudah obat anti sakit yang paling bagus apa saya mau bius ulang biar tidak sakit” Lanjut Yunita.
Bahwa setiap hari setelah oprasi apendik korban terus mengalami rasa sakit yang sangat hebat. Karena memiliki riwayat mag tanggal 7 mei 2025 kembali di rawat di RS asyifa walaupun hasil lab menunjukan leukosit yang semakin tinggi yaitu 48.600 wlpn terus mengonsumsi anti sakit dan anti biotik yang artinya ada infeksi tapi tidak dilakukan pemeriksaan ulang selerti usg dll untuk menentukan dimana adanya infeksi tersebut. karena terus mengalami Demam tinggi, perut panas, bab berdarah segar mimisan yang banyak. Pada tanggal (14/05/25) tengah malam yaitu pukul 00.30 wib korban kembali mendatangi rumah sakit tapi justru ditolak dan dirawat jalan, keluarga korban memaksa dokter umum di igd untuk memberikan penanganan atau dirawat walaupun harus tanpa bpjs, setelah diberikan anti sakit dan dipasang infus korban merasa sakitnya mulai berkurang akhirnya pukul 05.00 Wib memuntuskan untuk pulang. Karena jadwal kontrol ke poli dengan dokter bedah pada hari tersebut pukul 16.30 korban kontrol dan mengeluh sakit tapi justru mendapat serangan pisikis oleh dokter yang arogan tanpa ada rasa care terhadap pasien dan tidak melakukan pemeriksaan ulang,jangankan dilakukan pemeriksaan ulang di pegang saja tidak, pasien terus mengeluh dengan arogannya dokter mengatakan ” sudah tidak usah mengeluh gimana mau sehat kalau tidak makan, ini hanya psikis, operasi usus buntu itu hanya operasi kecil”. Setelah mendapat serangan psikis pasien pulang. Karena rasa sakit yang tidak kunjung sembuh maka pasien memutuskan melakukan pemeriksaan ke RSUD HASANUDIN DAMRAH Manna tanggal 16 mei 2025,yang di periksa dengan dokter usg yang sama hasil pemeriksaan menyatakan adanya kelainan uterus echostrutur DBN, tanpak lesiisoechoik origin dari oparium dekstra bentuk oval ukuran sebesar Ik 7.18 cm X 5.33 cm, septasi pada cfm tanpak vasculalrisasi intralesi, ternyata ditemukan tumor ovarium yang sebelumnya di RS ASYIFA MANNA dokter radiologi menyebutkan uterus normal, dan hasil lab leukosit 44.000.
Setelah korban mendapatkan hasil pemeriksaan dari RSUD HASANUDIN DAMRAH MANNA kemudian korban melakukan pemeriksan di klinik harapan bunda dan hasil pemeriksaan dokter memang ditemukan tumor/masa padat di ovarium.
Kemudian melakukan pemeriksaan lagi di klinik lain dangan hasil laboratorium patologi keluar hasil yang sama sehingga di rujuk kerumah sakit Gading Medika Bengkulu. Dan hasil oprasi yang lakukan RS. Gading Medika Bengkulu membuat kondisi semakin membaik.
“Kami semakin curiga dokter RS. ASIFA melakukan pekerjaan yang tergesa-gesa dan tidak akurat, menunjukan adanya dugaan kelalaian dan diagnosa,setelah dilakukannya operasi bukannya makin membaik malah kondisi ibu saya semakin memburuk, leukosit dari 44.000 dalam waktu 6 hari naik 48.600 yang normalnya paling tinggi 10.000 tidak dilakukan pemeriksaan ulang yang apabila telat ditangani akan sepsis atau keracunan darah bahkan koma, sementara setelah diangkat tumor ovarium di rumah sakit gading Medika Bengkulu kondisi langsung membaik,tidak mengeluh sakit lagi, dan dalam waktu 2 hari leukosit langsung turun dari 44.000 menjadi 13.000 beransur normal” kata Usi anak korban
Sementara direktur rumah sakit dr. Andanu saat di temui awak media di tempat kerjanya menjelaskan bahwa tindakan yang diambil oleh dokter yang memeriksanya sudah sesuai standar oprasi (SOP) dimana bahwa adanya diagnosa kelainan pada usus buntu sehingga diambil tindakan oprasi, dan tidak ditemukan ada kelainan ditempat lain.
“Dokter kami sudah melakukan tindakan sesuai standar oprasi (SOP) sehingga tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh dokter yang melakukan operasi tersebut” Kata direktur dr. Andanu.
Namun hasil diagnosa diduga tergesa-gesa dan terkesan serampangan.
Tak hanya itu, selama proses pemeriksaan dan perawatan korban mendapatkan tekanan fisikis dengan dokter yang arogan.
Menurut pengakuan korban, pihak rumah sakit sudah dua kali datang kerumah korban untuk mediasi agar permasalahan ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan namun sampai sekarang belum ada titik temu, dan tetap yakin bahwa kedua penyakit itu hanya masalah waktu. walaupun hasil histology ditemukan adanya high ade sereous carcinoma/kangker ovarium pihak rumah sakit masih terus menyangkal rahim yang normal waktu di USG dan dioperasi laparatomy tidak terlihat adanya kelainan di adanya tumor diovarium, keluarga merasa ini menunjukan adanya kelalaian justru jika dilakukan operasi laparatomy seharusnya pasti nampak. Pihak rumah sakit menyebutkan kangker ovarium itu hanya abses biasa ibarat bisul baru setelah 15 hari langsung sebesar 8cm. seperti yang kita ketahui bahwa yang namanya kangker itu sudah bertahun-tahun. Pihak rumah sakit juga tidak bisa membuktikan bahwa penyakit usus buntu tersebut benar2 ada hanya berdasarkan opini mereka berbanding terbalik dengan tumor di ovarium yang sudah jelas hasil histology nya dan kondisi pasien yang semakin membaik. Dokter yang bersangkutan juga menyangkal pasien baru sekali kontrol yang seharusnya 2 kali yaitu tanggal 14 mei 2025 dan tanggal 26 mei 2025 kalau sudah 2 kali kontrol apabila ada keluhan dokter tersebut pasti akan melakukan pemeriksaan ulang, keluarga menilai alasan tersebut sangat tidak masuk akal dan dianggap melalaikan pasien yang bisa menyebabkan orang kehilangan nyawa, apabila harus menunggu tanggal 26 mei 2025 baru dilakukan pemeriksaan ulang jika benar menurut opini mereka tumor ovarium tersebut hanya abses biasa dalam waktu 15 hari sebesar 8cm harus menunggu 12 hari lagi tumor tersebut bisa sebesar 16cm dan bisa pecah justru lebih bahaya. kondisi pasien semakin memburuk terus BAB berdarah segar,mimisan yang banyak, demam tinggi, perut yang panas, dan pasien sudah tidak kuat lagi menahan sakit walaupun pasien sudah 3 kali keluar masuk RS asyifa apabila telat ditangani bisa menyebabkan sepsis/keracunan darah bahkan koma.
Pihak keluarga sangat kecewa terlebih lagi hasil PA tumor tersebut ganas, seorang pasien kangker yang seharusnya mendapatkan perlakuan khusus justru mendapatkan serangan psikis, dan kelalaian yang berakibat fatal.
Korban berencana akan membawah kasus dugaan malapraktek keranah hukum agar mendapatkan kepastian dan kejelasan yang bisa di pertanggungjawaban sehingga tidak ada korban-korban malpraktek lagi di RS. ASYIFA MANNA KABUPATEN BENGKULU SELATAN.
(Tanto JKD)













