Pasaman, Sumatera Barat — Kompasnews.co.id
Perkumpulan Pemuda Nusantara Pas-Aman (P2NAPAS) menyoroti langkah Pemerintah Kabupaten Pasaman yang memberikan penghargaan hadiah sepeda motor kepada bidan Puskesmas Simpang Tonang yang viral setelah menyeberangi sungai deras demi menyelamatkan pasien.
Ketua Umum P2NAPAS, Ahmad Husein Batu Bara, menilai pengorbanan tersebut patut dihormati. Namun ia mengingatkan, penghargaan dari pemerintah semestinya tidak berhenti pada gestur simbolis, melainkan melalui prosedur transparan dan berlandaskan hukum.
“Apresiasi boleh, tapi jangan jadi panggung pencitraan. Semua tenaga kesehatan, dari kota sampai pelosok, berhak merasakan keadilan yang sama,” ujar Husein, Minggu, 10 Agustus 2025.
Surat Resmi dan Tuntutan Konkret
Dalam surat bernomor 017A/KONF/P2NAPAS/VIII/2025, P2NAPAS memberi tenggat tujuh hari kepada Bupati Pasaman dan Gubernur Sumatera Barat untuk memberikan klarifikasi tertulis. Surat itu ditembuskan ke Menteri Kesehatan, Ombudsman Sumatera Barat.
P2NAPAS menggarisbawahi bahwa isu sesungguhnya bukan hadiah motor, melainkan keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah terluar Pasaman. Mereka menuntut tiga langkah nyata:
- Penempatan bidan di setiap kejorongan.
- Pembangunan akses jalan memadai ke fasilitas kesehatan.
- Jaminan keselamatan tenaga medis di lapangan.
80 Tahun Merdeka, Jalan Masih Setapak
Husein menilai, fakta bahwa masyarakat masih harus menandu pasien di jalur sempit yang hanya bisa dilalui sepeda motor adalah potret kegagalan pembangunan dasar.
“Kita tidak minta jalan tol. Yang dibutuhkan adalah akses aman dan layak agar pasien bisa sampai ke rumah sakit tanpa mempertaruhkan nyawa,” katanya.
Panggung Politik dan Efek Viral.
Menurut P2NAPAS, publik kini semakin kritis. Aksi heroik tenaga kesehatan memang menggugah simpati, tetapi tanpa perubahan sistem, peristiwa serupa akan terus berulang.
Mereka mengingatkan bahwa gestur simbolis mudah viral, namun cepat pudar jika tidak diikuti kebijakan berkelanjutan. “Negara hadir bukan dengan sorotan kamera, tapi dengan pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Husein menutup pernyataannya.
Analisa Kompasnews.co.id
Fenomena penghargaan spontan terhadap tenaga kesehatan di Pasaman ini bukanlah kasus tunggal. Di banyak daerah tertinggal, pejabat kerap memilih langkah simbolis yang mudah dikonsumsi publik ketimbang menuntaskan akar masalah. Dari pembagian sepeda motor, peresmian jembatan darurat, hingga pengiriman bantuan instan — semua kerap berakhir sebagai konten media, bukan kebijakan jangka panjang.
Pola ini mencerminkan dilema klasik pembangunan: antara pencitraan politik dan keberlanjutan program. Di satu sisi, aksi simbolis memberikan kepuasan instan bagi publik dan legitimasi bagi pemimpin daerah. Namun di sisi lain, tanpa perencanaan infrastruktur dan reformasi layanan, simbol itu justru menegaskan bahwa masalah mendasar belum terselesaikan.
Pasaman hanya satu dari sekian wilayah yang masih hidup dalam “ekonomi darurat” pembangunan: bergerak cepat saat krisis, tapi lamban membangun fondasi.
Redaksi.














