Lampung – Kompasnews.co.id
Obrolan santai di salah satu angkringan santri amatiran di Provinsi Lampung mengisahkan kesedihan nya terkait banyak perwakilan Organisasi Masyarakat (Ormas) Islam yang sering dipanggil merapat di istana oleh Presiden Prabowo untuk menyampaikan aspirasi rakyat yang dinaunginya.
Mereka datang memenuhi panggilan Presiden, tidak heran kemudian jika para perwakilan Ormas tersebut keluar dengan membawa aspirasi dan sudut pandang Pemerintah dalam melihat persoalan rakyat yang sedang terjadi.
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menyatakan “Kami berdialog dari hati ke hati memahami secara umum dengan lengkap permasalahan bangsa yang dihadapi khususnya hari-hari ini dan kami bersepakat untuk bersama-sama, bahu-membahu berupaya untuk mengatasi keadaan, untuk mengajak masyarakat supaya lebih kondusif.
Sama halnya dengan yang disampaikan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dirinya menyatakan “Presiden begitu terbuka, dan kami punya pandangan yang sama bahwa Ormas Islam sebagai kekuatan yang punya sejarah yang panjang di Republik ini, dalam kemerdekaan dan pasca-kemerdekaan, memahami betul bahwa persatuan dan masa depan bangsa perlu kita jaga bersama.
Kami memahami demokrasi dan aspirasi, tetapi hendaknya seluruh masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan demokrasi itu dengan penuh pertanggung jawaban, ada yang santun, selalu mewaspadai agar tidak terkontaminasi oleh hal-hal yang membawa pada kekerasan dan perbuatan-perbuatan yang meruntuhkan kesatuan bangsa Indonesia.”
Sangat terlihat bahwa Ormas-ormas tersebut hanya sekedar menyuarakan aspirasi dan pandangan Presiden Prabowo tentang protes rakyat.
Mereka melihatnya hanya dari sudut ancaman dan melihat keriuhan warga ini sebagai persoalan dan dapat dikatakan mereka menganut demokrasi, tetapi.persis seperti demokrasi yang dianut dan ingin dijalankan Prabowo.
Mereka berada dalam satu kubu dengan Prabowo yang sepanjang kampanye sampai sekarang terus bersuara tentang pentingnya “mengendalikan” publik dengan dalih persatuan.
Substansi persoalan yang menjadi tuntutan rakyat hari ini sama sekali tak tersuarakan oleh mereka, keberatan rakyat soal pengabaian persoalan ekonomi masyarakat bawah, gaya hidup pejabat, berbagai aturan yang memberatkan publik, besarnya pendapatan anggota DPR, UU perampasan aset koruptor yang tak kunjung disahkan, pajak yang memberatkan, pengelolaan negara yang asal-asalan, gemuknya kabinet karena mengakomodasi semua partai politik, bagi-bagi posisi jabatan pada orang-orang yang tidak kompeten, pernyataan-pernyataan pejabat yang melecehkan rakyat, program-program bombastis yang rawan jadi bancakan kroni, kebiasaan presiden omon-omon dan menuding rakyat yang kritis ditunggangi asing, dan lain-lain.
Jelas Ormas-ormas Islam itu sedang tidak berdiri mewakili rakyat untuk menyampaikan tuntutan pada Prabowo mereka justru menjadi penyambung lidah kekuasaan serta oligarki pada tatapan dan air muka mereka terlihat wajah Presiden pilihan rakyat Prabowo Subianto.
Para auden dan narator tertawa lepas melihat kenyataan pahit yang dirasakan rakyat, apakah mampu untuk dapat sekedar meringankan beban mereka yang setiap saat keluar peluh demi menghidupi anak istri mereka, akhirnya semua bersepakat Tuhan adalah solusi terbaik tanpa meninggalkan Ormas yang sudah terlanjur jadi pilar pendukung Pemerintah, yang notabene bukan sebagai pemuas hati rakyat.(AMI)













