BPP Batang Asam Gelar Rembug Tani Sekolah Lapang Tematik Guna Tersedianya Pengolahan Lahan Pertanian

Daerah
Dilihat 119

Tanjung Jabung Barat. Kompasnews.co.id – BPP Batang Asam kabupaten. Tanjung Jabung Barat gelar Rembug Tani Sekolah Lapang Tematik di desa Sri Agung dan desa Rawa Medang.

Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk dukungan pada sektor pertanian,tujuan utamanya adalah meningkatkan wawasan petani tentang informasi iklim dan cuaca dan menggunakan informasi tersebut untuk kegiatan pertanian.

” Hadir dalam kegiatan tersebut Dinas Holtikultura dan PPL Heri Hasibuan, .S.P., kelompok tani dan para tamu undangan, kamis tgl (16/02/23).

Antusias rembug tani menjadi tolok ukur keberhasilan pertanian dan kelompok tani sehingga dapat meningkatkan swasembada pangan. Dipengaruhi beberapa faktor antara lain seperti bibit yang digunakan, sistem pengolahan tanah dan sistem pengairan serta kondisi iklim.

Iklim sendiri memengaruhi sebaran tanaman sehingga beberapa klasifikasi iklim yang ada didasarkan pada dunia tumbuh-tumbuhan. Misalnya kopi hanya tumbuh pada daerah yang dingin dan padi memberikan hasil maksimal pada daerah yang paparan sinar mataharinya tinggi,” ujarnya.

Sebaliknya tanaman dapat pula mempengaruhi iklim. Semakin banyak tutupan vegetasi maka suhu udara akan semakin dingin.

Dalam sistem pertanian bibit yang digunakan, sistem pengolahan tanah dan sistem pengairan merupakan faktor yang dapat dikendalikan oleh manusia.

Adapun faktor iklim merupakan faktor alam yang belum dapat kendalikan manusia baik dari segi variabilitas iklimnya maupun proses perubahan iklim itu sendiri.

Masalahnya kemudian terdapat jarak pada pemahaman informasi iklim kepada publik termasuk para petani. Seperti memahami arti normal iklim, fenomena el nino dan la nina dan juga perbedaan cuaca dan iklim itu sendiri.

Karena itulah kemudian diadakanlah Sekolah Lapang Tematik guna mengurangi gap pemahaman informasi iklim termasuk cuaca di dalamnya kepada masyarakat lebih khusus petani.

Dalam laporan kegiatan Sekolah Lapangan Tematik disebutkan bahwa sebagian besar penduduk Indonesia adalah petani, maka perlu perhatian lebih terhadap fenomena iklim yang berdampak pada kegiatan usaha tani.

Pada skala nasional, jika tidak ada upaya peningkatan kapasitas petani, maka situasi ini akan mengancam keamanan pangan nasional karena kegagalan panen akibat bencana alam yang terkait dengan cuaca dan iklim.

Di samping itu, masyarakat (petani) belum menyadari ataupun memahami mengenai dampak negatif dari variabilitas iklim serta bagaimana upaya untuk beradaptasi,” tutupnya. (M iman hrp)

You might also like