Harga Cabe, Tahu, dan Tempe Melonjak di Lhokseumawe, Pedagang Kewalahan

Daerah
Dilihat 485

Lhokseumawe, Aceh, Kompasnews.co.id — Suasana pasar tradisional di Lhokseumawe tampak berbeda dari biasanya. Lalu lalang pembeli berkurang, beberapa pedagang terlihat hanya duduk menunggu dagangan mereka dilirik. Di salah satu lapak kecil, Yuki, seorang pedagang cabe, menata dagangannya dengan wajah gusar.

Harga cabe merah yang biasanya menjadi primadona di pasar kini meroket hingga Rp90.000/kg. Tidak hanya cabe, harga tahu dan tempe pun ikut melambung karena bahan baku kedelai mengalami kenaikan.

Yuki, pedagang cabe yang sudah bertahun-tahun berjualan di pasar kota Lhokseumawe, mengaku sangat kewalahan dengan kondisi ini. “Kami sangat kewalahan berjualan karena serba mahal. Pembeli berkurang, entah karena tanggal sudah tua atau belum gajian. Mudah-mudahan balik modal saja, kami sudah maklum,” ujarnya pada Kamis (25/9/2025) sambil melayani satu-dua pembeli yang menawar harga.

Fenomena ini terjadi di pasar tradisional di Lhokseumawe Aceh, yang menjadi pusat perputaran kebutuhan pokok masyarakat setempat. Pasar ini biasanya ramai pada akhir bulan, namun kini pembeli justru menurun.

Kenaikan harga tersebut mulai terasa beberapa pekan terakhir, dan puncaknya dirasakan pedagang serta pembeli pada akhir September 2025.

Kenaikan harga dipicu oleh mahalnya biaya produksi dan distribusi. Untuk tahu dan tempe, bahan utama berupa kedelai semakin sulit didapat dengan harga murah. Sementara cabe mengalami lonjakan karena pasokan berkurang akibat cuaca yang tidak menentu di beberapa sentra produksi.

Pedagang seperti Yuki hanya bisa pasrah. Mereka mencoba tetap berjualan meski keuntungan menipis. “Yang penting balik modal dulu, tidak berani ambil banyak stok. Kalau rugi, bisa habis semua modal,” ungkapnya. Sementara itu, pembeli pun terpaksa mengurangi jumlah belanja. Beberapa ibu rumah tangga memilih membeli setengah kilogram atau bahkan seperempat kilogram cabe saja untuk kebutuhan harian.

Kondisi ini membuat denyut pasar tradisional terasa lebih sepi dari biasanya. Harapan besar kini ditumpukan pada turunnya harga dalam waktu dekat agar pedagang kembali bergairah dan daya beli masyarakat tidak semakin merosot. (Muslim)

You might also like