Pasaman, – Kompasnewd.co.id
Di tengah gegap gempita perayaan kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia, suara jeritan keadilan justru bergema dari sudut terpencil di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat. Di Jorong Batang Kundur dan Sinuangon, Nagari Cubadak Barat, Kecamatan Dua Koto, satu-satunya jembatan gantung penghubung antarjorong nyaris ambruk. Warga terisolasi. Anak-anak sekolah terpaksa berenang menyeberangi sungai deras demi menuntut ilmu, dan bidan desa mempertaruhkan nyawa untuk melayani pasien.
“Kami ini seperti hidup di negeri asing. Merdeka hanya jadi upacara, bukan kenyataan. Anak-anak kami basah kuyup menahan dingin demi bisa membaca buku,” keluh Sumarno, tokoh adat setempat, dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca.
Kondisi ini memantik keprihatinan dari Ketua Umum LSM P2NAPAS (Perkumpulan Pemuda Nusantara Pas-Aman), Ahmad Husein Batu Bara, yang menilai negara telah gagal menjamin akses dasar bagi seluruh rakyatnya.
“Jangan tunggu anak tenggelam baru bertindak. Ini bukan soal pembangunan semata, ini soal tanggung jawab negara. Kami mendesak Bupati Pasaman untuk segera membangun kembali jembatan penghubung ke Jorong Sinuangon,” tegasnya, Sabtu (2/8/2025).
Jembatan Harapan yang Runtuh
Jembatan tersebut menjadi satu-satunya akses penghubung bagi sekitar 350 jiwa. Ketika rusak, akses ekonomi, pendidikan, hingga kesehatan warga ikut lumpuh. Jalan alternatif pun tidak layak—curam, berlumpur, dan berbahaya, terutama saat musim hujan.

Masyarakat menyebut, kerusakan jembatan bukan hanya karena faktor usia dan cuaca, tetapi juga muncul dugaan adanya unsur sabotase. LSM P2NAPAS meminta aparat penegak hukum untuk segera menyelidiki secara terbuka dugaan tersebut.
Pemerintah Daerah Dinilai Abai
Berulang kali, warga dan perangkat nagari menyampaikan permohonan kepada pemerintah kabupaten maupun provinsi. Namun respons yang diterima hanya janji tanpa kejelasan.
“Kami sudah berkali-kali mengusulkan, tapi tak pernah ada tindak lanjut. Padahal ini soal nyawa. Masa pemerintah hanya sibuk mengurus baliho peringatan kemerdekaan?” ujar anggota Bamus Nagari Cubadak Barat dengan nada kesal.
Tuntutan LSM P2NAPAS
LSM P2NAPAS secara tegas menyampaikan empat poin tuntutan:
- Segera bangun kembali jembatan penghubung sebelum musim hujan datang.
- Pemerintah Kabupaten Pasaman wajib mengalokasikan anggaran darurat melalui APBD Perubahan 2025.
- Pemerintah Provinsi Sumbar dan pemerintah pusat turut bertanggung jawab dalam menyelesaikan persoalan akses dasar di wilayah terisolasi.
- Aparat penegak hukum menyelidiki dugaan sabotase jembatan.
Keadilan Sosial Itu Bernama Jembatan
Ahmad Husein mengingatkan bahwa keadilan sosial bukan hanya dibacakan dalam upacara. Ia harus hadir dalam bentuk nyata: jembatan yang kokoh, akses yang setara, dan perlindungan bagi setiap warga negara, termasuk mereka yang tinggal jauh dari sorotan media dan kamera pejabat.
“Apakah kemerdekaan hanya milik kota besar? Kami tidak minta mewah, hanya minta layak. Jangan sampai suara ambulans menjadi alarm baru bagi nurani yang lama tertidur,” tutupnya.
Redaksi.













