Korban dan Keluarga Pelemparan Bom Molotov Masih Trauma Berat

Daerah
Dilihat 316

Kompas News.co.id I P.Brandan
Teror pelemparan bom molotov di kediaman Joko Purnomo di Gang Mushollah Tangkahan Lagan, Kelurahan Alurdua Baru, Kecamatan Sei Lepan, Sumatra Utara (Sumut) menyisahkan trauma berat bagi korban dan keluarganya.

Bahkan, mereka masih merasakan ketakutan yang terus membayangi. ’’Kalau trauma, pasti,’’ ungkap, Virda Br Panggabean (42) didampingi, suaminyaKorban dan Keluarga Pelemparan Bom Molotov Masih Trauma Berat

Kompas News.co.id I P.Brandan
Teror pelemparan bom molotov di kediaman Joko Purnomo di Gang Mushollah Tangkahan Lagan, Kelurahan Alurdua Baru, Kecamatan Sei Lepan, Sumatra Utara (Sumut) menyisahkan trauma berat bagi korban dan keluarganya.

Bahkan, mereka masih merasakan ketakutan yang terus membayangi. ’’Kalau trauma, pasti,’’ ungkap, Virda Br Panggabean (42) didampingi, suaminya Joko Purnomo (47).

Dia mengaku bayangan ancaman teror itu muncul setelah aksi pelemparan bom molotov oleh orang tak dikenal (OTK) pada, jum’at (11/4) sekira pukul 01.45 Wib dini hari.

Sejak saat itu, Joko Purnomo merasa keluarganya selalu membayangkan hal-hal yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.

Atas kejadian tersebut, ketenangan di dalam rumah pun terusik.

’’Jadi, setiap malam selalu waspada. Dengar suara motor keras, hati selalu waswas,’’ terang pria empat anak kepada Kompas News.co.id.

Apalagi, hingga kini pelaku, (Eksekutor dan Aktor Intlektualnya) dari kejadian motif pelemparan bom molotov tersebut masih misterius atau belum terungkap dan terkesan mendapatkan perlindungan dari polisi sehingga merasa besar kepala dan menakutkan bagi korban dan keluarga.

Situasi itu kian membuat keluarga merasa terancam dan cemas dengan insiden tersebut.

Jika kebiasaan sebelumnya bisa tidur pukul 21.00 Wib, pasca kejadian membuat keluar tetap siaga.

Secara bergantian, keluarganya saling menjaga satu sama lain.

’’Setiap kali tidur malam, sekarang tak bisa nyenyak lagi. Kadang harus gantian jaga,’’ imbuhnya, Joko Purnomo (47).

Dia mengaku bayangan ancaman teror itu muncul setelah aksi pelemparan bom molotov oleh orang tak dikenal (OTK) pada, jum’at (11/4/2025) sekira pukul 01.45 Wib dini hari.

Sejak saat itu, Joko Purnomo merasa keluarganya selalu membayangkan hal-hal yang tak pernah dipikirkan sebelumnya.

Atas kejadian tersebut, ketenangan di dalam rumah pun terusik.

’’Jadi, setiap malam selalu waspada. Dengar suara motor keras, hati selalu waswas,’’ terangnya.

Apalagi, hingga kini pelaku, (Eksekutor dan Aktor Intlektualnya) dari kejadian motif pelemparan bom molotov tersebut masih misterius atau belum terungkap dan terkesan mendapatkan perlindungan dari polisi sehingga merasa besar kepala dan menakutkan bagi korban dan keluarga.

Situasi itu kian membuat keluarga merasa terancam dan cemas dengan insiden tersebut.

Jika kebiasaan sebelumnya bisa tidur pukul 21.00 Wib, pasca kejadian membuat keluar tetap siaga.

Secara bergantian, keluarganya saling menjaga satu sama lain.

’’Setiap kali tidur malam, sekarang tak bisa nyenyak lagi. Kadang harus gantian jaga,’’ imbuhnya. (jok)

You might also like