“Tikar Darurat, Ketika Teras Jadi Ruang Rawat: Ketangkasan Petugas Puskesmas Lepak di Tengah Fasilitas yang Terkapar”

Daerah
Dilihat 275

Sakra Timur, Lombok Timur | 3 November 2025.
Pagi itu, teras Puskesmas Lepak tak lagi sekadar tempat tunggu. Di bawah langit yang mulai mendung, puluhan pasien berbaring di atas tikar tipis, sebagian diinfus di lantai, sebagian lain bersandar lemah di pangkuan keluarga. Anak-anak kecil tampak meringkuk di pelukan ibu mereka, sementara para tenaga medis lalu-lalang dengan langkah cepat membawa alat medis seadanya. Teras Puskesmas Lepak hari itu tampak seperti miniatur ruang darurat dalam film dokumenter kemanusiaan—bedanya, ini bukan di wilayah bencana, tapi di sebuah fasilitas kesehatan milik pemerintah.

Ketangkasan para tenaga medis di Puskesmas Lepak hari itu layak diacungi jempol. Dengan ruang terbatas dan alat yang jauh dari kata lengkap, mereka tetap bekerja cepat, rapi, dan manusiawi.
“Kalau kami berhenti karena lelah, siapa lagi yang menolong?” ucap salah satu perawat dengan mata yang sudah memerah, sambil memindahkan peralatan medis sederhana ke sisi teras yang teduh.

Namun di balik kesigapan itu, tergambar potret getir pelayanan kesehatan di Lombok Timur. Fasilitas yang mestinya menopang kerja para tenaga medis justru tampak ringkih. Puskesmas Lepak, yang menjadi tumpuan warga dari beberapa desa di Kecamatan Sakra Timur, memiliki hanya 17 ruang rawat inap. Sementara dalam empat hari terakhir, jumlah pasien rawat jalan mencapai 511 kunjungan, dan UGD serta rawat inap sebanyak 214 pasien. Angka yang tak sebanding dengan kapasitas ruang dan alat medis yang tersedia.

Menurut dr. jaga Puskesmas Lepak, lonjakan pasien kali ini diduga dipicu perubahan cuaca ekstrem dan peralihan musim yang membuat daya tahan tubuh masyarakat menurun. “Banyak yang mengeluh demam, batuk, dan flu. Tapi karena ruangan penuh, kami tangani di teras,” ujarnya, berusaha tersenyum di tengah kelelahan.

Sementara itu, aktivis kemanusiaan lokal menilai pemerintah daerah seharusnya tak lagi abai terhadap sinyal krisis seperti ini. “Lonjakan pasien bukan hal baru. Setiap musim pancaroba selalu terjadi. Tapi pemerintah tampaknya lebih sibuk memoles laporan ketimbang membenahi fasilitas kesehatan dasar,” katanya menohok.

Ketika dikonfirmasi, Kepala Puskesmas Lepak, Lalu Arjuna, tak menampik kondisi tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya sudah berupaya maksimal dengan segala keterbatasan yang ada. “Kami bekerja sesuai kemampuan fasilitas yang tersedia”. ujarnya

Di tengah kekurangan itu, para petugas medis menunjukkan ketangguhan yang justru membuat malu mereka yang punya kuasa. Di tangan mereka, tikar menjadi ruang darurat, teras menjadi ruang tunggu, dan ketulusan menjadi satu-satunya alat vital yang tak pernah rusak.

Mungkin pemerintah Lombok Timur tak sepenuhnya menutup mata. Hanya saja, mereka tampaknya lebih pandai menyusun laporan keuangan ketimbang menyusun tempat tidur pasien. Dan hingga hari ini, teras Puskesmas Lepak masih penuh—bukan oleh fasilitas baru, tapi oleh warga yang menunggu kesembuhan… dan barangkali, juga keadilan.***

You might also like